Legenda Asal Usul Wilayah Banyuasin Kecamatan Loano


Konon kisahnya di Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat terdapat seorang penjabat kerajaan bernama Tumenggung Cakraningrat, beliau mempunyai dua orang anak lelaki yaitu Raden Mas Udomenggolo dan adiknya Raden Nayadwipa, keduanya sejak kecil telah dilatih berbagai ilmu, baik ilmu kanuragan maupun ilmu pemerintahan, karena keduanya kelak diharapkan dapat memangku jabatan di katumenggungan bahkan  di kasultanan, terutama Raden Mas Udomenggolo kelak apabila ayahnya sudah tua dan bahkan telah tutup usia diharapkan dapat menggatikan sang ayah sebagai seorang Tumenggung.
Pada suatu hari Tumenggung Cakranigrat memanggil kedua putra lelakinya untuk menghadap,  keduanya diajak bicara dari hati ke hati dengan penuh kasih sayang. Sang ayah berkata bahwa telah tiba saatnya beliau akan meletakkan jabatan sebagai seorang Tumenggung, karena merasa dirinya sudah dimakan usia, sang ayah memandang bahwa Raden Mas Udomenggolo sudah cukup bekal ilmu kanuragan dan ilmu pemerintahan, sehingga sudah sepantasnya ia menggantikan sang ayah memangku jabatan Tumenggung.
Ada perasaan galau di hati Raden Mas Udomenggolo ketika mendengar keputusan sang ayah ibarat sabda raja yang tak terbantah. Sejak kecil ia dibebaskan bergaul dengan anak-anak rakyat jelata, sehingga ia tahu persis bahwa ada jurang perbedaan antara keturunan darah biru dengan rakyat jelata, baik setatus sosial maupun penghidupannya, dirinya putra Tumenggung yang dihormati dan hidupnya serba bergelimang kemewahan, sementara itu di luar katumenggungan banyak anak-anak muda dari keluarga miskin yang kesehariannya ibarat hidup enggan mati tak hendak karena serba kekurangan. Kenyataan inilah yang menimbulkan pemikiran Raden Mas Udomenggolo untuk menolak keputusan sang ayah dan ia mempunyai keinginan yang kuat untuk hidup membaur dengan rakyat jelata, tetapi di hadapan sang  ayah ia sama sekali tidak berani membantah.
Suatu malam ketika suasana sudah mulai sepi, Raden Mas Udomenggolo masih duduk berdua dengan sang adik Raden Mas Nayadwipa di taman, keduanya terlihat akrab sekali karena sejak kecil memang selalu bersama dalam suka dan duka, apa yang dirasakan sang kakak dirasakan pula oleh sang adiknya, sehingga ketika sang kakak mengutarakan maksudnya untuk meninggalkan katumenggungan tanpa pamit akan mengembara entah kemana dan menyerahkan tahta tumenggung kepada sang adik, dengan serta merta Raden Mas Nayadwipa pun menolaknya, bahkan ia bersikukuh untuk ikut kemanapun sang kakak pergi. Alkisah pada tengah malam itu juga ketika semua orang terlelap tidur, dua anak muda kakak beradik itu benar-benar meninggalkan seluruh keluarga katumenggungan secara diam-diam dengan hanya berbekal bahan makanan ala kadarnya agar tidak repot dalam pengembaraan mereka.
Perjalanan panjang ke arah barat mereka lalui dengan sepenuh hati, sengaja memasuki wilayah yang masih berupa hutan belantara yang belum terjamah manusia, agar jika keluarga katumenggungan berusaha mencari tidak mudah menemukan mereka. Betapa berat pengembaraan mereka yang harus naik bukit nuruni jurang yang terjal dengan sesekali harus menyibak dedaunan dan akar-akar pohon yang bergelantungan, seringkali mereka jumpai binatang buas dan penghuni hutan lainnya seperti babi, kerbau hutan, ular-ular berbisa, monyet, dan sejenisnya, namun sepasang kakak beradik ini tidak pernah mengeluh dan tetap semangat karena terpacu niat yang bulat untuk memulai kehidupan yang baru tanpa kemewahan dunia yang semu.
Pada suatu ketika sampailah mereka di suatu lembah di kaki bukit, disana mengalir sebuah sungai besar penuh bebatuan tetapi airnya jernih. Entah berapa hari perjalanan mereka namun yang  jelas keduanya merasa lelah sekali, tubuhnya penuh luka karena onak dan duri ketika harus menerobos semak belukar. Di lembah kaki bukit inilah mereka sepakat untuk dijadikan pesanggrahan atau tempat istirahat melepaskan lelah. 
Sebuah pesanggrahan mereka dirikan bertiang kayu beratap ilalang dan berdinding bambu yang bahannya diambil dari tumbuhan sekitar, kakak beradik ini mulai menapaki kehidupan seperti layaknya sebuah rumah tangga, memasak bahan-bahan mentah yang dibawa dari ketumenggungan ala kadarnya, merebus air untuk diminum dan seterusnya. Disamping itu merekapun mulai mengobati luka-luka ringan disekujur tubuhnya dengan jenis dedaunan yang ada disekitar, ditumbuk halus kemudian dioleskan pada bagian-bagian yang luka berulang-ulang setiap hari hingga sembuh.
Sekitar sebulan sudah mereka berdua tinggal di pesanggrahan, sampai pada suatu hari garam persediaan yang mereka bawa habis. Raden Mas Udomenggolo dengan serta merta mengambil Encis Pusaka (keris kecil) yang selama ini selalu berada dipinggangnya, kemudian mengajak adiknya untuk pergi kesungai, disana ada sebuah sungai menyatu, selanjutnya mereka berdua menyusuri sungai kearah mudik dan belum begitu jauh telah menemukan sebuah sungai terbelah menjadi dua aliran yang dihilir tadi sudah menjadi satu kembali, sehingga ditengahnya sebidang tanah seperti delta berbentuk jajaran genjang. Di ujung delta dipinggir sungai yang terbelah dua inilah mereka berdua berhenti, duduk bersila seraya berdoa, kemudian Raden Mas Udomenggolo menancapkan Encis Pusaka ke dalam tanah.
Ketika Encis Pusaka dicabut, dari dalam tanah menyemburlah air yang rasanya asin seperti garam, kedua kakak beradik ini kemudian bersujud mencium tanah bersyukur atas karunia yang diberikan. Namun ketika keduanya akan kembali kepesanggrahan, mereka melihat mata air asin itu semakin membesar dan membesar terus, sehingga mereka terpaksa mengambil batu untuk menutup lubang mata air tersebut agar mengecil, setiap kali ditutup batu selalu jebol tidak kuat menahan semburan dari dalam tanah, begitu berulang kali sampai akhirnya Raden Mas Udomenggolo duduk bersimpuh bersemedi memohon petunjuk kepada Tuhan, ia sangat khawatir apabila mata air asin ini dibiarkan begitu saja, maka lembah dikaki bukit yang amat subur yang diperkirakan kelak akan ramai dijadikan tempat tinggal anak cucu, akan menjelma menjadi sebuah telaga yang airnya asin. Tak lama kemudian setelah Raden Mas Udomenggolo berdoa, ia meminta kepada adiknya untuk segera pergi kehutan untuk mencari kerbau hutan yang kulitnya belang, jika sudah menemukan segera dipotong dan secepatnya kembali dengan membawa kepalanya. Raden Mas Nayadwipa bergegas berangkat kehutan, sementara itu sang kakak meneruskan semedinya untuk keselamatan dan keberhasilan adiknya. 
Sampai tengah hari ketika matahari tepat diatas kepala, lobang mata air semakin membesar dan airnya sudah mulai mengalir kesemua penjuru, ketika itu pula sang adik kembali dengan nafas terengah-engah dan seluruh tubuh bersimbah peluh menenteng kepala kerbau bule. Mendengar kedatangan adiknya seraya sang kakak bangun dari semedinya, kemudian secepatnya mereka bedua menyumbat lobang mata air yang menyemburkan air asin itu dengan kepala kerbau bule. Apa yang terjadi sungguh suatu keajaiban, mata air tersebut benar-benar mati dan hanya tinggal rembesan kecil-kecil, namun dari atas bukit arah barat sana terdengar suara bergemuruh seperti suara tanah longsor, dua orang kakak beradik ini sangat terkejut seraya berlari menuju asal suara tersebut, mereka berdiri ternganga melihat kenyataan bahwa saking kuatnya tekanan mata air asin dan saking kuatnya sumbatan kepala kerbau bule, maka akhirnya mata air asin jebol diatas bukit membentuk sebuah lobang dengan garis tengah tiga meter, tanah gugusannya tersibak kepinggir lobang menjadi tanggul, namun mata air sudah tidak begitu besar karena berada diketinggian, sehingga tampak seperti sebuah sumber yang airnya asin.
Sekarang lembah di kaki bukit tersebut sudah berubah menjadi sebuah kota kecil (desa) dengan nama Banyuasin yang dijadikan ibukota Kecamatan Loano termasuk wilayah Kabupaten Purworejo, bekas pesanggrahan Raden Mas Udomenggolo dan adiknya sekarang menjadi komplek Kantor Kecamatan Loano bahkan rumah dinas Camat berada tepat di atas pesanggrahan. Sungai besar yang mengalir disebelah barat Kantor Kecamatan yang membatasi Desa Banyuasin Kembaran dan Desa Banyuasin Separe disebut Sungai Jebol, Sumber air asin diatas bukit sampai sekarang masih diabadikan berada diwilayah Desa Banyuasin Separe, yang ramai dikunjungi karena memiliki khasiat airnya dapat menyembuhkan segala macam penyakit kulit. Raden Mas Udomenggolo dan Raden Mas Nayadwipa merupakan nenek moyang dan cikal bakal masyarakat Banyuasin dan sekitarnya, beliau berdua disemayamkan di makam Bonang berada di wilayah Desa Banyuasin Separe yang sampai sekarang setiap tahun, tepatnya setiap tanggal 21 Sya`ban selalu diadakan acara khaul Simbah Udomenggolo.

sumur mata air asin

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Legenda Asal Usul Wilayah Banyuasin Kecamatan Loano"

Posting Komentar